Studi ungkap bagaimana bakteri kolera lolos dari pemangsa di air

Jenewa, Swiss, (ANTARA News) – Ilmuwan Swiss telah menemukan mekanisme yang membantu bakteri kolera selamat dari predator pemangsa di lingkungan air.

Temuan tersebut, meskipun di luar penelitian arus utama mengenai patogenesis, mungkin memberi sumbangan dalam perang melawan wabah itu pada manusia, kata siaran pers dari Swiss Federal Institute of Technology Lausanne (EPFL) pada Senin (27/8).

Vibrio cholerae, yang menyebabkan penyakit kolera, adalah spesies baktei yang biasa ditemukan di lingkungan air, seperti samudra, kolam dan sungai. Bakteri tersebut telah mengembangkan keahlian luar biasa untuk menjamin kelangsungan hidup, pertumbuhan dan kadangkala penyeberannya ke manusia, terutama di daerah wabah global.

Di dalam lingkungan hidup semacam itu, bakteri tersebut haru mempertahankan dirinya dari pemangsa protozoa, seperti amuba, kata Xinhua –yang dipantau Antara di Jakarta, Rabu siang. Salah satu cara patogen itu mempertahankan dirinya dari amuba-air pemangsa melibatkan “tindakan membonceng” mereka dan bersembunyi di dalam amuba.

Segera setelah berada di sana, bakteri tersebut melawan pencernaan dan membuat ceruk tiruan di dalam organ pengatur tuan rumah. Organel itu penting buat amuba untuk menyeimbangkan tekanan air di dalam tubuhnya dengan tekanan yang berasal dari lingkungan.

Di dalam studi baru tersebut, yang disiarkan di jurnal ilmiah Nature Communications, para peneliti di EPFL dan mitra mereka telah menguraikan mekanisme molekular yang digunakan oleh V. cholerae untuk mengkolonialisasi amuba air.

Semua itu memperlihakan bahwa patogen menggunakan pola khusus yang memungkinkannya mempertahankan ceruk tiruannya di dalam amuba dan akhirnya meloloskan diri dari tuan rumah yang menyerah. Beberapa pola itu, termasuk enzim ekstra-seluler dan motalitas yang dilandasi cambuk, dianggap faktor kedahsyatan minor sebab mereka juga memainkan peran pada penyakit manusia.

Studi tersebut menyatakan lingkungan air menyediakan lahan pelatihan buat V. cholerae dan penyesuaian ke arah predator amuba mungkin telah memberi sumbangan bagi kemuncuran V. cholerae sebagai patogen utama manusia.

Para peneliti mengatakan temuan itu mendukung hipotesis bahwa tekanan dari pemangsa dapat memilih pola tertentu yang mungkin memilki dua peran dalam lingkungan hidup dan di dalam tubuh manusia yang terinfeksi, dan menyatakan studi mengenai gaya hidup lingkungan patogen tersebut, meskipun agak di luar penelitian arus utama mengenai patogenesis, mungkin memiliki peran dalam memerangi wabah pada

manusia.
 

Pewarta:
Editor: Chaidar Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2018