Italia desak EU buka lebih banyak pelabuhan bagi pengungsi

Wina (ANTARA News) – Italia, Kamis, mendesak Uni Eropa (EU) mencari pelabuhan lain untuk mendaratkan pengungsi, yang diselamatkan dari Laut Tengah.

Negara itu mengisyaratkan akan menahan dukungan bagi tugas angkatan laut Uni Eropa terhadap penyelundupan manusia kecuali jika negara lain mau menampung penyintas.

Italia menjadi jalur utama menuju Eropa bagi ratusan ribu pencari suaka, yang tiba melalui laut sejak jalur utama lain, dari Turki ke Yunani, sebagian besar ditutup pada 2016.

Walaupun jumlah kedatangan pengungsi menurun dalam setahun belakangan, pemerintahan baru Italia menjadikan penutupan jalur sebagai pilar kebijakan.

Italia pada Kamis menekankan masalah penyediaan pelabuhan dalam pertemuan para menteri pertahanan EU, yang membutuhkan dukungan Italia bagi misi angkatan laut mereka, yang dikenal sebagai Sofia.

Misi tersebut akan berakhir dalam empat bulan mendatang dan saat ini membawa semua pendatang yang diselamatkannya ke Italia.

“Tidak mungkin lagi Italia menjadi satu-satunya pelabuhan pendaratan dan menampung semua migran yang diselamatkan di laut,” kata Menteri Pertahanan Italia Elisabetta Trenta di Wina, setelah menghadiri pertemuan dengan 27 mitra lainnya.

Tuntutan Italia itu dinyatakan setelah perselisihan diplomatik muncul. Italia melarang kapal-kapal penyelamat berlabuh di Italia kecuali jika negara-negara lainnya setuju untuk juga menerima kedatangan para migran.

Menurut Reuters, dalam pertemuan para menteri pertahanan tersebut di Wina, belum ada negara yang menawarkan diri untuk membuka pelabuhannya. Namun, kepala kebijakan luar negeri EU Federica Mogherini mengatakan ia berharap pembicaraan akan berlanjut.

“Hari ini bukan soal menjanjikan pelabuhan,” kata Mogherini, yang memimpin pertemuan itu.

Ia mengatakan ada kemauan politik untuk menemukan penyelesaian dan bahwa pilihan-pilihan lainnya juga ada, seperti mengirimkan sejumlah banyak migran yang tiba di Italia ke negara-negara EU lainnya.

Menteri Luar Negeri Italia Enzo Moavero Milanesi mengatakan ia akan menekankan masalah migrasi itu dalam pertemuan dengan mitra-mitranya, juga di Wina pada Kamis.

Ia mengatakan bahwa pemerintahan harus bertindak sesuai dengan nilai hak asasi manusia dan kesatuan, yang dianut Eropa.

Editor: Tia Mutiasari/Boyke Soekapdjo

Pewarta:
Editor: Gusti Nur Cahya Aryani
COPYRIGHT © ANTARA 2018